
SURABAYA, 9 FEBRUARI 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi risiko bencana. Salah satunya melalui program short course atau pelatihan singkat kebencanaan yang dilaksanakan di Jepang selama sepekan, Senin–Jumat (2–6 Februari 2026).
Short course tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Kementerian Ekonomi, Perindustrian, dan Perdagangan Jepang (METI) serta Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnership (AOTS).
Selain BPBD Jatim, pelatihan juga diikuti perwakilan Bappeda Jatim, Dinas PU SDA Jatim, PU Bina Marga Jatim, Perum Jasa Tirta, PDAM Kota Surabaya, serta akademisi dari Pusat Penelitian Mitigasi dan Perubahan Iklim ITS Surabaya.
Selama pelatihan, sebanyak 17 peserta menerima berbagai materi strategis kebencanaan, mulai dari sistem mitigasi dan informasi bencana, manajemen krisis saat tanggap darurat, pemanfaatan teknologi penginderaan cerdas, hingga peran sektor swasta dalam penanggulangan bencana.
Akademisi kebencanaan Universitas Kyoto, Prof. Haruo Hayashi, dalam materinya menekankan pentingnya perubahan paradigma penanggulangan bencana. Menurutnya, fokus kebijakan harus bergeser dari penanganan saat tanggap darurat menuju penguatan pencegahan dan kesiapsiagaan pra-bencana.
“Anggaran satu dolar yang dikeluarkan pada tahap pra-bencana setara dengan tujuh dolar biaya saat tanggap darurat,” ujar Prof. Haruo, seperti dikutip dari siaran pers BPBD Jatim, Senin (9/2/2026).
Ia menjelaskan, mitigasi pra-bencana terbagi menjadi dua, yakni mitigasi struktural dan non-struktural. Mitigasi struktural mencakup pembangunan infrastruktur dan sarana fisik kebencanaan, sedangkan mitigasi non-struktural berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan pelatihan kebencanaan.
Dalam pelatihan ini, Pemerintah Jepang juga melibatkan dunia usaha untuk mempresentasikan berbagai teknologi pendukung penanggulangan bencana, seperti drone VTOL, alat ukur curah hujan, pengukur pergerakan tanah, seismometer, hingga teknologi pemadatan tanah untuk mitigasi longsor.
Untuk melengkapi pembelajaran, para peserta diajak mengunjungi pameran teknologi kebencanaan di Minato Mirai Expo, Yokohama, Prefektur Kanagawa.
Beragam inovasi ditampilkan, antara lain kendaraan komunikasi berinternet, rumah tahan gempa, simulator gempa bergerak, sistem pemantauan bencana, serta alat penjernih air darurat.
Direktur Pelatihan AOTS Jepang, Karako Takemoto, mengapresiasi antusiasme dan partisipasi aktif peserta asal Jawa Timur. Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan di instansi masing-masing.
Sekretaris BPBD Jatim, Andhika N. Sudigda, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada METI dan AOTS Jepang atas kesempatan pembelajaran tersebut. Menurutnya, banyak praktik baik dan teknologi kebencanaan Jepang yang relevan untuk direplikasi di Jawa Timur, khususnya dalam pemanfaatan teknologi penginderaan cerdas.
“Kami berharap pelatihan singkat seperti ini dapat berlanjut secara rutin dan berkelanjutan, termasuk dengan tema lain seperti penguatan sistem evakuasi bencana,” ujarnya.
Selain mengikuti pelatihan dan pameran, peserta juga melakukan studi banding ke BPBD Prefektur Saitama, fasilitas pengolahan air di Kota Misato, serta pusat edukasi kebencanaan Sona Area di Tokyo untuk memperkaya wawasan praktik penanggulangan bencana di Jepang.


